SOSIOLOGI OLAHRAGA DAN AGAMA

SOSIOLOGI OLAHRAGA DAN AGAMA


Sosiologi Olahraga dan Agama
BAB I
A.    Latar belakang masalah
Dalam realita kehidupan sehari-hari banyak para atlet yang masih kurang peduli akan pegangan kehidupannya, mereka mengesampingkan ketaatannya pada allah swt dan lebih mementingkan porsi latihan yang diberikan oleh pelatih. Porsi latihan yang lama dan waktunya yang berbarengan dengan waktu ibadah, itu semua merupakan masalah yang harus segera  dicari jalan kelaurnya.Ditinjau dari penampilan para atlet sekarang ini sungguh mencengangkan. Lihatlah dalam setiap  even olahraga terutama wwanita, kebanyakan dari mereka memakai pakaian yang seperti tidak layak pakai.            Agama merupakan pegangan hidup manusia untuk menjadi manusia yang sejahtera. Banyak sekali atlet yang mempercayai agama sebagai keyakinan yang membantunya dalam pertandingan. Tapi ketika atlet tersebut mengalami kekalahan tentu ia merasa kesal dan didalam hatinya pasti banyak yang mengeluh pada tuhan mereka dan menganggap tuhan itu tidak adil terhadapnya.

B.     Tujuan dan Manfaat1.        TujuanAdapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk membuka wawasan bagi para pembaca agar lebh mengenal hubungan antara olahraga dan agama.2.         Manfaat
Dengan dibuatnya karya tulis ini diharapkan pembaca bisa lebih giat dalam beribadah dan berolahraga. Juga menambah wawwasan tentang definisi olahraga dan pengertian agama yang itu semua merupakan bagian yang banyak dikesampingkan orang.


BAB III
Kesimpulan dan saran
A.    Kesimpulan
Olahraga adalah aktivitas yang memiliki akar eksistensi ontologism sangat alami, yang dapat diamati sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk-bentuk gerakan terlatih. Olahraga kommpetitif adalah olahraga yang didalamnya dituntut untuk usaha keras dan kondisi prima sehingga yang layak menyandang the winner adalah orang “paling” (the best of all).Olahraga bersifat kompetitif apabila memiliki unsure-unsur sebagai berikut :·         Adanya aturan baku yang mengatur aktifitas (olahraga)
·         Kewenangan badan tertentu yang secara resmi mengatur suatu aturan
·         Pentingnya aspek teknis dan keteraturan pengelolaan aktifitas
·         Melembagakan aktifitas pembelajaran.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
B.     Saran
Jika ada sesuatu yang tidak pas dengan keyakinan anda silakan anda cari kebenarannya dan kritiklah karya tulis ini dengan kritik yang membangun, karena masih banyak kesalahan-kesalahan yang tidak bisa terkoreksi karena keterbatasan informasi yang didapat penulis.
 
BAB IIOlahragaA.    Akar Eksistensi Olahraga
Olahraga, sebagaimana yang dikatakan Richard Scaht (1998: 124), seperti halnya sex, terlalu penting untuk dikacaukan dengan tema lain. Ini tidak hanya tentang latihan demi kesehatan. Tidak hanya permainan untuk hiburan, atau menghabiskan waktu luang, atau untuk kombinasi dari maksud sosial dan rekreasional. Olahraga adalah aktivitas yang memiliki akar eksistensi ontologism sangat alami, yang dapat diamati sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk-bentuk gerakan terlatih.Olahraga juga adalah permainan, senada dengan eksistensi manusiawi sebagai makhluk bermain (homo ludens-nya Huizinga). Olahraga adalah tontonan, yang memiliki akar sejarah yang panjang, sejak jaman Yunani Kuno dengan arete, agon, pentathlonsampai dengan Olympic Games di masa modern, di mana dalam sejarahnya, perang dan damai selalu mengawal peristiwa keolahragaan itu. Olahraga adalah fenomena multidimensi, seperti halnya manusia itu sendiri.Mitos dan agama Yunani awal menampilkan suatu pandangan dunia yang membantu perkembangan kesalinghubungan intrinsik antara makna olahraga dan budaya dasar. Keduanya juga merefleksikan kondisi terbatas dari eksistensi keduniaan, dan bukan sebagai kerajaan transenden dari pembebasan. Nuansa keduniawian tampak pula pada ekspresi naratif tentang kehidupan, rentang luas pengalaman manusiawi, situasionalnya dan suka dukanya. Manifestasi kesakralan terwujud dalam prestasi dan kekuasaan duniawi, kecantikan visual dan campuran dari daya persaingan mempengaruhi situasi kemanusiaan (Hatab, 1998: 98).Budaya Yunani Kuno juga sepenuhnya bersifat agon, persaingan. Puisipuisi Homer dan Hesiod menampilkan diri sebagai konflik di antara daya-daya persaingan. Wajah realitas Yunani Kuno juga mewujud dalam daya-daya persaingan ini: atletik, keindahan fisik, kerajinan tangan, seni-seni visual, nyanyian, tarian, drama dan retorika (Crowell, 1998: 7). Signifikansi agon dapat lebih dipahami dari pandangan tentang ideal kepahlawanan. Dalam Iliad-nya Homer, keberadaan manusia secara esensial adalah mortaldan terarah pada takdir negatif melampaui kendali manusia. Kematian dapat mencapai kompensasi istimewa: keduniawian, kejayaan dan kemasyhuran melalui pengambilan resiko dan pengkonfrontasian kematian pada medan perang, melalui pengujian keberanian manusia melawan satria lain dan kekuatan nasib. Hal terpenting di sini adalah bahwa makna keutamaan terhubung dengan batas-batas dan resiko. Dapat digeneralisir – dalamIliad itu – bahwa tanpa kemungkinan untuk kalah atau gagal, kemenangan atau keberhasilan tak akan berarti apa-apa (Hatab, 1998: 98).Atletik (olahraga, dalam tulisan ini kadang-kadang disebut dengan atletik untuk kepentingan penyesuaian konteks) berperan penting dalam dunia Yunani Kuno. Kata atletik berarti konflik atau perjuangan, dan dapat secara langsung diasosiasikan dengan persaingan, di mana kompetisi di tengah-tengah kondisi keterbatasan mambangkitkan makna dan keutamaan. Apa yang membedakan kontes atletik dari hal-hal lain dalam budaya Yunani adalah bahwa atletik menampilkan dan mengkonsentrasikan elemen-elemen duiniawi dalam penampilan fisik dan keahlian, keindahan tubuh, dan hal-hal khusus dari tontonan dramatis (Hatab, 1998: 99).Kontes atletik, seperti yang tampak dalam Iliad, menunjukkan penghargaan yang tinggi masyarakat Yunani terhadap olahraga yang terrepresentasikan sebagai semacam ritual agama dan terorganisir dalam mana kompetisi-kompetisi fisik ditampilkan sebagai analog mimetic (secara menghibur) dari penjelasan agama – baik tentang nasib dan kepahlawanan – dan sebagai penjelmaan rinci signifikansi kultural agon. Sekarang, signifikansi olahraga menurun di dunia Yunani, justru dengan datangnya statemen-statemen filsafat sebagai kompetitor kultural. Nilai penting dari tubuh dan aksi secara bertahap dikalahkan oleh tekanan pada pikiran danrefleksi intelektual. Ketertarikan terhadap transendensi spiritual dan tertib alam menggeser pengaruh mitos-mitos dan religi seperti dijelaskan di atas. Meskipun Plato dan Aristoteles mengusung nilai penting latihan fisik dalam pendidikan, namun mereka memulai sebuah revolusi intelektual yang meremehkan nilai penting kultural keolahragaan – “remeh” justru karena keterkaitan erat olahraga dengan tubuh, aksi, perjuangan, kompetisi dan prestasi kemenangan (Hatab, 1998: 99).Pada umumnya olahraga dipahami orang sebagai terjemahan sport yang didalamnya terkandung pengertian kegiatan olahraga kompetitif yang mengutamakan pencapaian tujuan dan rekor seperti yang dilaksanakan dilingkungan organnisasi induk olahraga atlet elit. Olahraga kommpetitif adalah olahraga yang didalamnya dituntut untuk usaha keras dan kondisi prima sehingga yang layak menyandang the winner adalah orang “paling” (the best of all).Selanjutnya olahraga diartikan sebagai aktivitas fisik. Di Indonesia terdapat definisi olahraga yang diangkat melalui pertimbangan dan pemikiran yaitu : 1. Olahraga pendidikan; 2. Olahraga rekreasi; 3. Olahraga kesehatan; 4. Olahraga kompetitif (prestasi).Aktifitas fisik dapat diklasiifikasikan sebagai olahraga kalau ia memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Partisipasi dalam aktifitas fisik dapat terwujud dalam dua rentang kondisi yaitu dari kondisi formal  sampai informal dan dari yang tidak tersetruktur sampai pada kondisi formal dan terorganisir.Olahraga bersifat kompetitif apabila memiliki unsure-unsur sebagai berikut :·         Adanya aturan baku yang mengatur aktifitas (olahraga)
·         Kewenangan badan tertentu yang secara resmi mengatur suatu aturan
·         Pentingnya aspek teknis dan keteraturan pengelolaan aktifitas
·         Melembagakan aktifitas pembelajaran.
Bergerak/aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi (pembakaran Kalori)Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang danditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani.Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.Bugar adalah kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan seharihari tanpa menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang berlebihan.


















AgamaApa itu agama? Mengartikan atau membuat definisi agama tidaklah mudah. Setiap orang berbeda pendapat dari satu dengan yang lainya. Kebanyakan mereka mendefinisikan agama sesuai pandanganya tentang kelebihan atau kekurangan agama yang dianutnya, atau dengan melihat bagian terpenting dari ajarannya. Imtaq.com akan mencoba mengulas definisi agama.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama merupakan  sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata agama. Namun akan sedikit sulit mendefenisikan pengertian agama itu sendiri. Hal tersebut diakui sendiri oleh Mukti Ali, salah seorang pakar ilmu perbandingan agama di Indonesia yang mengatakan;“Barangkali tak ada kata yang paling sulit diberikan pengertian dan defenisi selain dari kata agama.”Menurut Mukti Ali, terdapat tiga argumentasi yang dapat dijadikan alasan dalam menanggapi statemen tersebut. Pertama karena pengalaman agama adalah soal batin dan subjektif. Kedua barangkali tidak ada orang yang begitu semangat dan emosional daripada membicarakan agama. Karena itu, membahas arti agama selalu dengan emosi yang kuat dan yang  ketiga konsepsi tentang agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang memberikan pengertian agama.Mohammad Natsir pernah mengatakan agama adalah hal yang disebut sebagaiproblem of ultimate concern, suatu problem kepentingan mutlak, yang berarti jika seseorang membicarakan soal agamanya maka ia tidak dapat tawar menawar. Namun begitu bukan berarti agama tidak dapat diberikan pengertian secara umum. Dalam memberikan defenisi tersebut, para ahli menempuh beberapa cara; Pertama dengan menggunakan analisis etimologis, yaitu menganalisis konsep bawaan dari kata agama atau kata lainnya yang digunakan dalam arti yang sama. Kedua, analisis deskriptif, menganalisis gejala atau fenomena kehidupan manusia secara nyata.Berbicara mengenai agama maka terdapat tiga padanan kata yang semakna dengannya yaitu religi, al-din dan agama. Walaupun sebagian pendapat ada yang mengatakan bahwa ketiganya berbeda satu sama lainnya seperti pendapat Sidi Gazalba dan Zainal Arifin Abbas yang mengatakan al-din lebih luas pengertiannya daripada religi dan agama. Agama dan religi hanya berisi hubungan manusia dengan Tuhan saja sedangkan al-din berisi hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan menurut Zainal Arifin Abbas, kata al-din (memakai awalan al-ta’rif) hanya ditujukan kepada Islam saja.Sedangkan pendapat yang mengatakan ketiga kata diatas mempunyai makna sama seperti pendapat Endang Saifuddin Anshari dan Faisal Ismail. Perbedaan hanya terletak pada segi bahasanya saja. Kemudian secara etimologis agama berasal dari bahasa sanskerta, masuk dalam perbendaharaan bahasa Melayu (nusantara) dibawa oleh agama Hindu dan Budha. Pendapat yang lebih ilmiah, agama berarti jalan. Maksudnya jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh oleh manusia sepanjang hidupnya atau jalan yang menghubungkan antara sumber dan tujuan hidup manusia, atau jalan yang menunjukkan darimana, bagaimana dan hendak kemana hidup manusia di dunia ini.Religi berasal dari kata religie (bahasa Belanda) atau religion (bahasa Inggris), masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dibawa oleh orang-orang Barat yang menjajah bangsa Indonesia. Religi mempunyai pengertian sebagai keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut.Din berasal dari bahasa Arab yang berarti undang-undang atau hukum yang harus ditunaikan oleh manusia dan mengabaikannya berarti hutang yang akan dituntut untuk ditunaikan dan akan mendapat hukuman atau balasan jika ditinggalkan.Dari etimologis ketiga kata di atas maka dapat diambil pengertian bahwa agama (religi,din): (1) merupakan jalan hidup yang harus ditempuh oleh manusia  untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera; (2) bahwa jalan hidup tersebut berupa aturan, nilai atau norma yang mengatur kehidupan manusia yang dianggap sebagai kekuatan mutlak, gaib dan suci yang harus diikuti dan ditaati. (3) aturan tersebut ada, tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh dan berkembangnya kehidupan manusia, masyarakat dan budaya.Secara terminologi dalam ensiklopedi Nasional Indonesia, agama diartikan aturan atau tata cara hidup manusia dengan hubungannya dengan tuhan dan sesamanya.  Dalam al-Qur’an agama sering disebut dengan istilah din. Istilah ini merupakan istilah bawaan dari ajaran Islam sehingga mempunyai kandungan makna yang bersifat umum dan universal. Artinya konsep yang ada pada istilah din seharusnya mencakup makna-makna yang ada pada istilah agama dan religi.Konsep din dalam Al-Qur’an diantaranya  terdapat pada surat Al-Maidah ayat 3 yang mengungkapkan konsep aturan, hukum atau perundang-undangan hidup yang harus dilaksanakan oleh manusia. Islam sebagai agama namun tidak semua agama itu Islam. Surat Al-Kafirun ayat 1-6 mengungkapkan tentang konsep ibadah manusia dan kepada siapa ibadah itu diperuntukkan. Dalam surat As-Syura ayat 13 mengungkapkan din sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh Allah. Dalam surat As-Syura ayat 21 Din juga dikatakan sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh yang dianggap Tuhan atau yang dipertuhankan selain Allah. Karena din dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang disyariatkan, maka konsep din berkaitan dengan konsep syariat. Konsep syariat pada dasarnya adalah “jalan” yaitu jalan hidup manusia yang ditetapkan oleh Allah. Pengertian ini berkembang menjadi aturan atau undang-undang yang mengatur jalan kehidupan sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan. Pada ayat lain, yakni di surat Ar-Rum ayat 30, konsep agama juga berkaitan dengan konsep fitrah, yaitu konsep yang berhubungan dengan penciptaan manusia.








Hubungan antara Agama dan OlahragaAtheis"Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya."Muhammad Ali
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat saya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian penelitian mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang dialami oleh masyarakat yang taat bergama. Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an.
Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua keyakinan agama.
Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.
Olah Raga tiada lain adalah sebuah permainan, walaupun demikian terbukti bahwa olah raga tak hanya dilihat dan dimengerti sebagai suatu permainan saja, akan tetapi juga dapat menjadi alat untuk menjalin hubungan bagi kemanusiaan dan persahabatan bagi masyarakat dunia, bahkan lebih jauh telah berkembang menjadi ilmu pengetahuan olah raga, yang dapat memutar roda ekonomi suatu negara melalui kegiatan industri olah raga, pariwisata, pendidikan, kesehatan, budaya, hiburan, teknologi informasi, dan lain-lain, yang dimana kegiatannya akan membuka peluang pekerjaan bagi miliaran ummat manusia di dunia .Selanjutnya apakah arti Permainan menurut Al Qur'an, berikut disampaikan firman Allah SWT dalam Q.S. Muhammad yang artinya sebagai berikut :36). Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau . Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu . ( Q.S. Muhammad : 36 ) .Ayat diatas adalah termasuk ayat yang Muhkamaat atau ayat yang jelas maknanya (artinya), dan misalkan pun termasuk ayat yang Mutasyaabihaat atau belum jelas maknanya, maka sebagai muslim dituntut harus beriman (percaya) kepada kebenaran firmanNya, agar kita tidak masuk menjadi golongan orang-orang yang ingkar .Berdasarkan ayat diatas bahwasanya diantara kehidupan manusia, ada yang terlena pada dunia yang difirmankan Allah SWT hanyalah Permainan dan Senda Gurau, dan ada juga manusia yang berjuang untuk akhiratnya melalui proses Iman dan Taqwa, atau melakukan Hubungan dengan Allah melalui proses Iman dan Taqwa, serta melaksanakan Hubungan dengan sesama Manusia .Islam mengajarkan dan menganjurkan agar mencapai kedua alam kebahagiaan yaitu, kebahagiaan Dunia dan Kebahagiaan Akhirat dan Bebas Dari Neraka .Sekarang marilah kita kaji satu persatu apakah benar kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau, bukankah manusia sudah bekerja keras bagai kuda, bukankah seluruh waktunya telah dihabiskan untuk mencapai prestasi tertinggi sampai ke angkasa, tetapi mengapa dunia masih dikatakan sebagai sebuah permainan, padahal hidup seharusnya serius dan jangan bersenda gurau saja .Jawabannya yang nyata terlihat apapun profesi yang kita jalani, apakah sebagai Olahragawan, Ilmuwan, Politisi, Budayawan, Peneliti, Pekerja, Usahawan, Pimpinan, Petani, Nelayan, Wartawan, dan lain-lain, seharusnya diakui secara jujur bahwa semua dilakukan oleh motivasi keduniaan, yang selalu dinikmati permainannya, sampai manusia lupa daratan dan lupa makan, dan masuk dalam pusaran gelombang lautan keduniaan, dan lebih celaka lagi jika permainannya tanpa dilandasi Iman dan Taqwa, dan karenanya keimanan serta ketaqwaan adalah jalan terbaik, untuk mencapai kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat, agar manusia tidak larut dalam kehidupan Dunia yang hanya permainan dan senda gurau tersebut, sebab mengutamakan Keimanan dan Ketaqwaan dalam Hubungan dengan Allah SWT, tujuannya agar kehidupan Dunia yang hanya permainan dan senda gurau, tidak menjadi percuma dan akan bermanfaat untuk program kehidupan abadi jangka panjang di Akhirat kelak .Untuk itulah Allah SWT mengingatkan bahwa Beriman serta Bertaqwa adalah jalan terbaik, sebagai contoh nyata seorang pemain Olah Raga profesional, atau politisi, usahawan, ilmuwan, peneliti, dan lain-lain, yang bekerja keras di lapangan mencari kehidupan jangka pendek, jika dia Beriman dan Bertaqwa akan mendapatkan amal pahala yang sangat berguna, bagi tujuan program kehidupan abadi jangka panjang kelak di akhirat nanti .Selanjutnya permainan olah raga disamping memiliki nilai ekonomi dan budaya juga memiliki manfaat bagi kesehatan diri pribadi, yaitu untuk menjaga tubuh tetap aktif sehat bergerak dan tidak lemah atau kaku, dan didalam ajaran Islam pun Sholat sebagai mikraj atau (jalan naik) untuk menghadap Allah SWT, juga ternyata menjadi obat dan memiliki nilai manfaat olah raga bagi Ummat Islam, agar menjadi manusia mulia yang sehat dan kuat, baik rohani maupun jasmaninya, serta tentu yang utama akan menjadi hambaNya yang Beriman dan Bertaqwa, sebab Allah SWT lebih menyukai seorang hamba yang beriman dan bertaqwa serta sehat dan kuat, dari pada seorang hamba yang lemah .Perhatikanlah firman Allah SWT dalam Q.S. Ali 'Imran sebagai berikut :138). ( Al Qur'an ) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa .139). Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman .( Q.S. Ali 'Imran : 138 - 139 ) .
Dalam hitungan jam kedepan perhelatan Sepak Bola Piala Dunia akan dihelat, diperhitungkan akan banyak mata tertuju kepada kegiatan tersebut, jutaan atau bahkan mungkin milyaran mata akan melihatanya termasuk dari Negeri-negeri Muslim.Sepak Bola tidak dapat pungkiri merupakan olah raga paling populer di seluruh dunia mengungguli semua cabang olah raga lainnya. Sepak bola sesungguhnya dapat menguatkan dan mempertangkas diri, namun sepakbola modren telah menjadi industri yang berputar didalamnya uang yang sangat banyak, terjadinya fanatik kepada klub sepakbola yang sering menimbulkan kerusuhan dan bahkan sepakbola telah dijadikan ajang taruhan.Mengingat semua hal tersebut Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman mengulas permasalahan tersebut dengan bahasan yang cukup panjang dan detil menurut syari’at Islam. Simak ebook ini dan InsyaAllah kita akan menemukan pelajaran yang sangat berharga.

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP OLAHRAGA

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP OLAHRAGA

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP OLAHRAGA

Oleh:
Wawan S. Suherman

Abstrak
Media massa dan olahraga mulai berhubungan sejak 150 tahun yang lalu. Hubungan tersebut ditandai dengan pemuatan berita tentang olah-raga oleh surat kabar di inggris dan amerika. Sejak itu hubungan keduanya trus berkembang dan mengalami pasang surut.
Perkembangan selanjutnya, media massa dan olaraga mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia. Pertautan keduanya berkembang menjadi hubungan resiprokal, saling bergantung dan berpengaruh satu dengan yang lainnya. Walaupun pada masa kinimedia lebih berpengaruh terhadap kedudukan olahaga dalam kehidupan manusia. Perkembangan pertautan tersebut tidak pernah luput dari pengamatan secara seksama oleh para ahli sosiologi olahraga.
Secara umum, pengaruh media massa terhadap olahraga ada tiga. Pertama, media massa tidak berpengaruh terhadap olahraga. Kedua media massa membantu perkembangan olahraga. Ketigamedia massa mengganggu dan merugikan keberaaan olahraga.

Kata kunci : media massa, olahraga, pengaruh media massa.


Pendahuluan
Olahaga lebih dahulu dikenal manusia dibandingkan media massa. Menurut sejarah, bangsa yunani dan romawai sangat menggemari olahraga, dan dari sanalah awal perkembangan olahraga sampai kemudian menyebar dan berkembang ke seluruh dunia. Media massa berkembang kemudian, seiring dngan perkembangan peradaban dan peningkatan kebutuhan manusia untuk saling berkomunikasi mengatasi batas ruang dan waktu. Kini, media massa sudah beragam jenisnya dan menyebar penggunanya diseluruh dunia. Manusiamemetik buah manis dari hasil daya krasinya. Karena keduanya sangat bermanfaat bagi kehidupan menusia penemunya.

Pada perkembangan selanjutnya, keduanya sangat melekat dengan kehidupan manusia, sehingga ia tak dapat dipisahkan darikehidupan manusia sehari-hari. Manusia memiliki ketergantungan yang tinggi kepada keduanya, tanpa kehadiran keduanya manusia akan kehilangan satu penggerak denyut nadi kehidupan manusia. Keduanya memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, pertautan media massa dengan olahraga tidak pernah lepas dari amatan manusia, terutama para pakar sosiologi olahraga.

Hubungan media massa dengan olahraga memiliki sejarah yang panjang. Bannet, et al. (1983: 273-240) melaporkan bahwa media cetak seperti surat kabar telah melaporkan kegiatan olahraga di inggris dan amerika serikat, sejak tahun yang lalu. Sage (1990: 115-117) menambahkan bahwa media elektronika terus berkembang hingga sekarang. Tampaknya, sejak itu pemberitaan dan penyiaran olahraga telah menjadi ajang bisnis yang menggiurkan, terutama di negara-negara maju, karen bertumpuk-tumpuk uang ada disana. Situasi dan kondisi media massa seperti itu akan banyak mempengaruhi kelangsungan hidup dunia olahraga. Dengan demikian, dunia oalhara memperoleh dampak, baik menguntungkan maupun merugikan, karena disiarkan dan diberitakan oleh media massa, misalnya olahraga menjadi populer, atau olahraga mengalami perubahan peraturan yang tidak perlu. Memperhatikan diatas, ada persoalan menarik yang muncul dan perlu dibahas dalam makalah ini. Persoalan tersebut adalah: apa pengaruh media massa terhadap olahraga?


Pembahasan
Media massa dan olahraga memperoleh keuntungan dan kerugian dari hubungan yang terjadi antarkeduanya. Media massa diterima secara luas oleh pelanggannya, karena ia menyiarkan acara-acara olahraga. Olahraga mempunyai pendukung dan penonton fanatik, karena ia diberitakan oleh media massa. Walaupun demikian, kadang-kadang olahraga harus menganggung suatu masalah yang timbul karena pemberitaan media massa. Dengan kata lain, seperti dikatakan oleh coakley (1994: 334-335), bahwa terdapat hubungan resiprokal antara media massa dan olahraga, keduanya saling berpengaruh terhadap yang lainnya, dan keduanya saling tergantung atas kesuksesan komersial dan popularitas yang diraihnya.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, olahraga angat sering menjadi objek pemberitaan media masa. Media massa menjadi pihak yang aktif dan banyak mendapatkan keuntungan dari hubungan yang sedang berlangsung, sedangkan olahraga, tampaknya, menjadi pihak yang pasif. Dengan demikaian, wajar apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa keberadaan olahraga mendapatkan banyak pengaruh dari pemberitaan dan penanyangan media massa. Secara umum, pengaruh media massa terhadap olahraga bisa dikategorikan menjadi:

1. Media massa berpengaruh netral terhadap negara
Beberapa pakar berpendapat bahwa media massa tidak mempengaruhi perkembangan olahraga. Chandler (dikutip oleh wise, 1994: 461-462) menyatakan bahwa televisi tidak mempengaruhi olahraga, penanyangan siaran oalahraga hanya mereflekskan nilai-nilai yang telah ada dalam masyarakat: ”bila kita tidak menyukai apa yang dilihat, kita jangan menilai medianya, tetapi nilailah diri sendiri” whanel (1983: 111-113) menambahkan bahwa media massa menyiarkan kegiatan olahraga dengan keterampilan profesional yang tinggi, tetapi tidak mendiskusikannya secara serius, sebab siaran terbatasi oleh tujuan komersialnya.

Keberadan olahraga tidak tergantung pada media massa, tetapi keberhasilan olahraga sebagai hiburan komersial jelas bergantung kepada media massa.olahraga tidak dibentuk oleh media massa secara umum, atau oleh televisi secara khusus (coakley, 1994: 350-352). Olahraga dapat bertumbuh dan berkembang oleh kekuatanya sendiri berupa kepopulerannya, karena dukungan media tidakbegitu signifikan. Media massa terlalu memikirkan pencapaian tujuan komersialnya sendiri dengan mengabaikan pengaruh siarannya terhadap olahraga. Dengan demikian, dampak siaran media massa terhadap olahraga sepenuhnya sangat bergantung kepada olahraga sendiri. Olahrga harus pintar-pintar memanfaatkan memanfaatkan keberadaan media massa tanpa terpengaruh secara negatif oleh kehadiran media massa. Akan lebih baik, apabila olahraga mengambil keuntungan dari kehadiran media massa.

2. Media massa memberi keuntungan kepada olahraga
Telah dikemukakan di atas bahwa olahraga perlu memanfaatkan kehadiran media massa untuk mengembangkan dunia olahraga sendiri, sehingga olahraga memperoleh dampak positif dari kehadiran media massa. UNESCO ( dikutip oleh Bennett et all, 1983: 241-243) mengusulkan agar media massa mengambil peran dalam meningkatkan pemahaman internasiaonal terhadap nilai olahraga yang tentu saja jauh melenihi realitas dunia olahraga yang ada. Media massa juga mampu memberikan makna politik olahrag yang ada. Media massa juga mampu memberikan makna politik ollahraga secara internasional.

Bennet et al (1983: 237-238) menambahkan bahwa media massa harus dimanfaatkan untuk mengkampanyekan program nasional kgiatan massal, seperti program memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Dengan begitu, program olahraga massal akan memperoleh hasil memuaskan apabila didukung promosi dan penyebaran informasi oleh media massa.

Media massa memainakan peran yang penting dalam melahirkan pahlawan-pahlawan olahraga pada abad ke-20. banyak bintang olahraga yang mendunia karena dibesarkan oleh media massa. Bintang-intang olahraga menjadi terkenal dibanding tokoh-tokoh politik. Kondisi ini tidak terlepas dari andil media massa dalam menyiarkan dan menanyangkan peristiwa atau kegiatan olahraga. Banyak bintang besar lahir dan dibesarkan oleh media massa.

Coakley (1994 : 356) menyatakan bahwa media massa mengirimkan pesan dan gambaran olahraga yang benar dalam acara dan programnya, sehingga masyarakat menjadi peduli akan kegiatan olahraga. Selanjutnya, menurut Arlen (dalam wise, 1994: 460) media massa mempengaruhi olahraga di amerika salam berbagai bentuk. Pengaruh tersebut antara lain : tayangan olahraga dalam telivisi menyuguhkan gambar dengan sudut pandang yang lebih baik dibandingkan nonton langsung di stadion. Putaran kompetisi menjadi lebih panjang dengan peserta tim yang terlibat lebih banyak.


Popularitas olahraga meningkat karena ditayangkan dan diberitakan oleh media massa. Rakyat amerika serikat begitu menggandrungi ”baseball”,”football”, hoki es dan bolabasket, karena media massa mempromosikan dan memberitakan secara besar-besaran kegiatan tersebut pada masa awal perkembangannya. Kompetisi bolabasket NBA. Bisa dinikmati dan digandrungi oleh sebagian masyarakat indonesia karena ditayangkan dan diberitakan oleh media massa di indonesia. Piala dunia perancis 1998 begitu gegap gempita dan bisa dinikmati oleh ratusan juta pemirsa diseluruh dunia karena digembar-gemborkan oleh media massa pula. Tidak menutup kemungkinan, panitia pelaksana akan meneruk keuntungan yang melimpah diakhir acara. Sedemikian meriah dan populer piala dunia yang sedang berlangsung di perancis,sehingga bisa sedikit mengalihkan perhatian sebagian oenduduk indonesia dai krisis yang mereka derita.

Media massa seperti membantu kegiatan olahraga dengan menayangkannya, padahal yang sebenarnya adalah media massa mengincar keuntungan yang berlipat dari kegiatan yang mereka lakukan. Peristiwa olahraga menyimpan potensi keuntungan yang menggiurkan di dalamnya. Para pengusaha akan rela menghamburkan dana jutaan dolar untuk memasang iklan dalam siaran olahraga yang ditonton oleh jutaan pemirsa merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan angka penjualan. Kondisi ini disadari betul oleh pemilik media massa, sehingga mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan hak siaran kegiatan olahraga yang mendunia. Mereka yakin keuntungan yang diperoleh akan berlipat-lipat.

3. media massa merugikan perkembangan olahraga
Selain kedua hal diatas, media massa menimbulkan kerugian bagi dunia olahrga. Beberapa cabang olahraga menjadi tidak karu-karuan terkena pengaruh media massa. Sage (1990:119) menyatakan bahwa untuk meningkatkan daya tarik bagi penonton dan menyesuaikan denga kebutuhan siaran,industri telivisi diizinkan untuk mendapatkan ikalan, demikianlah cara media memanfatkan iklan, demikianlah cara media memanfaatkan olahraga. Media massa tidak memiliki minat yang baik terhadap olahraga, ia semata-mata hanya mencari keuntungan belaka.

Olahraga secara signifikan dipengaruhi oleh media massa dalam berbagai hal, seperti penjadwalan kompetisi, waktu permainan, perubahan peraturan, gaji pemain, tayangan olahraga, dan persepsi terhadap tim dan pemain (Altheide & Snow dalam Wise, 1994 : 489-490). Penulis menyaksikan sendiri bagaimana pemegang hak siar mengatur jam pertandingan suatu turnamen bulu tangkis tingkat dunia agar sesuai dengan ”prime time” (waktu tayangan utama) di negara yang dituju. Partai utama harus disiarkn tengah makam, karena perbedaan waktu sekitar empat jam dengan negara yang dituju siaran langsung. Partai tertentu harus dimainkan dilapangan tertentu agar bisa disiarkan ke negara tujuan. Partai tertentu harus dimainkan dilapangan tertentu agar bisa disiarkan disiarkan ke negara tujuan. Pimpinan pertandingan, atau ”refferee” sekalipun tidak memiliki kewenangan untuk membantah pengaturan tersebut. Contoh lain yang menarik adalah beberapa pertandingan di piala dunia USA 1994 harus dilaksanakan siang hari bolong agar sesuai dengan waktu tayang utama dinegara yang dituju. Dari segi prestasi jelas hal itu omong kosong. Bagamana orang akan berprestasi bagus, bila harus bermain ditengah terik matahari musim panas yang menyengat. Tidak mengaami dehidrasi saja sudah untung,sehingga jangan harap pemain bisa menampilkan prestasi puncak.

Cico (1990:10) menabahkan bahwa pers menciptakan mitos atau persepsi publik yang tidak betul terhadap olahraga. Konon banyak atlit, pelatih dan pembina, kesulitan untuk melaksanakan tugas mereka karena mereka merasa terganggu oleh pemberitaan media massa. Di amerika serikat, banak guru penjas yang berhenti melatih karena tidak tahan diusik terus menerus oleh pemberitaan media massa. Di amerika serikat, banyak guru penjas yang berhenti melatih karena diusik terus menerus oleh media massa yang tidak benar tentang gaji yang mereka terima. Dalam pemberitaanya, guru seolah-olah mendapatkan gaji yang emnggiurkan padahal kenyataannya berbicara sebaliknya. Atlet sekaliber stefi grad bisa menarik diri dari beberapa turnamen yang harus diikutinya dan prestasinya anjlok, karena ia tidak tahan oleh gangguan media massa yang menyebarkan kasus yang menimpa ayahnya.


Penutup
Media massa memang mempengaruhi perkembangan dunia olahraga. Pengaruh tersebut bisa berarti atau tidak, menguntungkan atau merugikan bergantung atas kepiawaian olahraga mempertahankan dirinya sendiri. Sebenarnya posisi olahrag berimbang kedudukannya dengan media massa di dalam masyarakat, hanya kadang-kadang ada kepentingan tertentu yang menggoyahkan kedudukan tersebut.

Disisi lain hubungan yang ada, keduanya, olahraga dan media massa, bisa saling memaafkan untuk kemajuan bidang masing-masing. Keduanya bisa saling menarik keuntungan dari eberadaan salah satu pihak. Yang jelas, keduanya sudah saling bergantung dan saling membutuhkan. Olahraga tidak bisa hidup tanpa media dan media tidak akan berkembang tanpa bantuan olahraga. Itulah makna hubungan resiprokal.

Daftar Pustaka
Bennett, Bruce L. Et al. (1983). Comparative physical education and
sport. 2nd.ed. Phiadelphia: Lea & Febiger
Cico, Daniel C. (1990). “Why teachers leave coaching”. Scholastic
coach, v.60, no 1
Coackley, jay L. (1994). Sport in society: issue and controversies.
5th.ed. St. Louis, Toronto: mosby-year book. Inc.
Sage, george H. (1990). Power and ideology in american sport, A
critical perspective. Cahmpaign, IL: Human Kinetic Publisher,
Whannel, Gary. (1983). Blowing the wishtle: the politics of sport.
London: Pluto press
Wise, Suzanne. (1994). Social issues in contemporary aport: A resource
guide. New york and London: garland