Sosiologi Olahraga dan Budaya
Pengertian sosiologi Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang
mempelajari masyarakat dan proses-proses social yang terjadi di dalamnya antar
hubungan manusia dengan manusia, secara individu maupun kelompok, baik dalam
suasana formal maupun material, baik statis maupun dinamis. Telaah yang lebih
dalam tentang sifat hakiki sosiologi akan menampakkan beberapa karakteristiknya
yaitu : 1. Sosiologi adalah ilmu sosial berbeda jika dibandingkan dengan ilmu
alam / kerohanian. 2. Sosiologi merupakan disiplin ilmu kategori bukan
normatif, artinya bersifat non etis yakni kajian dibatasi pada apa yang
terjadi, sehingga tidak ada penilaian dalam proses pemerolehan dan penyusunan
teori. 3. Sosiologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu
pengetahuan terapan, artinya kajian sosiologi ditujukan untuk membentuk dan
mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak. 4. Sosiologi meupakan ilmu
pengetahuan empiris dan rasional artinya didasarkan pada observasi obyektif
terhadap kenyataan dengan menggunakan penalaran. 5. Sosiologi bersifat teoritis
yaitu berusaha menyusun secara abstrak dari hasil observasi. Abstrak merupakan
kerangka unsur yang tersusun secara logis, bertujuan untuk menjelaskan hubungan
sebab akibat berbagai fenomena. 6. Sosiologi bersifat komulatif, artinya teori
yang tersusun didasarkan pada teori yang mendahuluinya. Obyek suatu disiplin
ilmu dibedakan menjadi obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah
sesuatu yang menjadi bidang/kawasan kajian ilmu, sedang obyek formal adalah
sudut pandang / paradigma yang digunakan dalam mengkaji obyek material.
Pengertian olahraga Istilah olahraga menurut Webstre’s New Coligiate (1980)
yaitu ikut serta dalam aktifitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan
aktifitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga bertanding ( athletic
games ). Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana
untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak
(meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan
hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara
dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk
merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur
anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan
kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan
lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan
Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom
& Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J,
Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992). Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah
proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan,
dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan
atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan
prestasi puncak dalam pembentukanmanusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas
berdasarkan Pancasila. Sosiologi olahraga Sosiologi olahraga merupakan ilmu
terapan, yaitu kajian sosiologis pada masalah keolahragaan. Proses sosial dalam
olahraga menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan kerjasama
membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata yang
sudah melembaga. Kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe
perilaku anggotannya dalam mencapai tujuan bersama, kelompok sosial biasanya
terwadahi dalam lembaga sosial, yaitu organisasi sosial dan pranata. Beragam
pranata yang ada ternyata terkait dengan fenomena olahraga. Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya,
merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang
cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.